iklan

Sebanyak 300 Guru TK Ikuti Pelatihan Strategi Pembelajaran K-13

Sebanyak 300 orang guru TK se Kabupaten Sidoarjo mengikuti pelatihan Strategi Pembelajaran Kurikulum 2013/K-13 di aula Dinas P&K Kabupaten Sidoarjo.

SIDOARJO (beritasidoarjo.com) Sebanyak 300 orang guru Taman Kanak-kanak (TK) se Kabupaten Sidoarjo mendapatkan pelatihan Strategi Pembelajaran Kurikulum 2013/K-13 di aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) Kabupaten Sidoarjo, Selasa (7/11/2017).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-kanak Indonesia (GOPTKI) Kabupaten Sidoarjo itu dilaksanakan selama dua hari, yaitu tanggal 7 dan 14 Nopember 2017.

Ada dua narasumber yang dihadirkan dalam pelatihan itu, yaitu Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) DR. Hj. Gunarti Dwi Lestari, M.Si, M.Pd dan Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Paud dan Pendidikan Non Formal Dinas P&K Kabupaten Sidoarjo Dr. Dra. Sri Sutarsih, M.Si.

Ketua GOPTKI Kabupaten Sidoarjo Hj. Siti Sulandjari Djoko Sartono yang membuka kegiatan tersebut mengatakan bahwa pelatihan diberikan untuk meningkatkan pembelajaran guru TK sesuai kurikulum 13.

“Pembelajaran K 13 merupakan kewajiban seorang guru yang harus dijalankan. Amatlah berdosa apabila seorang guru salah melakukan strategi pembelajaran kepada anak didiknya,” katanya.

Untuk itu ia berharap penerapan pembelajaran K 13 dapat dijalankan oleh lembaga pendidikan TK serta melangkah sesuai dengan panduan dan pedoman yang ada sehingga yang dikerjakan dapat dipertanggung jawabkan.

“Ini adalah kewajiban dan harus dilaksanakan,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas P&K Kabupaten Sidoarjo Drs. H. Mustain mengungkapkan bahwa kurikulum 2013 untuk TK  tidak pernah berubah sejak diterapkan.

“Namun pelaksanaanya, masih ada sekolah TK yang belum memahaminya,” ungkapnya.

Dijelaskan oleh H. Mustain bahwa TK bukanlah sekolah, karena itu  pembelajaran baca tulis tidak diharuskan di lembaga TK.

“Pemerintah juga melarang SD melakukan tes baca, tulis, hitung sebagai syarat penerimaan siswa didik baru,” jelasnya.

Larangan itu terus ia kampanyekan agar tidak ada lagi SD (Sekolah Dasar,red) yang memberlakukan syarat penerimaan tersebut.

“Mari kita kembalikan pada khittahnya. Khittah TK itu bermain yang melekatkan karakter pada anak,” pungkasnya. (imams/kominfo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*