iklan

HUT Ke 18 Tahun, DWP Kabupaten Sidoarjo Gelar Bhakti Sosial

DWP Kabupaten Sidoarjo memberikan santunan kepada para penghuni Liponsos.

SIDOARJO (beritasidoarjo.com) Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Sidoarjo menggelar Bhakti Sosial (Bhaksos) dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) nya yang ke 18 tahun 2017 di pendopo Delta Wibawa, Rabu (22/11/2017).

Organisasi istri Pegawai Negeri Sipil (PNS) tersebut menggelar Bhaksos di dua tempat, yakni donor darah di pendopo Delta Wibawa dan pemberian santunan kepada para penghuni Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) di jalan Sidokare Gang Sekolahan No.1.

Ketua DWP Kabupaten Sidoarjo Ari Djoko Sartono mengatakan bahwa kunjungannya ke Liponsos adalah bentuk kepedulian anggota DWP Kabupaten Sidoarjo kepada warga Liponsos.

Bantuan yang diberikan diharapkan dapat bermanfaat bagi penghuninya, karena masyarakat penghuni Liponsos merupakan tanggung jawab bersama dan dibutuhkan perhatian dari semua pihak.

“Tujuan kami kesini, sedikit memberikan bantuan dan kepedulian kami kepada masyarakat yang ada disini, sebenarnya ini menjadi tanggung jawab kita semua,” katanya.

Diungkapkan oleh Ari Djoko Sartono bahwa melalui kunjungan seperti akan membuat anggota DWP Kabupaten Sidoarjo banyak-banyak bersyukur karena permasalahan yang dihadapi penghuni Liponsos dapat dijadikan pembelajaran dalam hidup.

Menurut istri Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sidoarjo Djoko Sartono itu bahwa permasalahan yang dihadapi masyarakat umum sangatlah kecil bila dibandingkan dengan permasalahan yang dialami warga Liponsos.

“Dengan kita berkunjung disini sebenarnya banyak pelajaran yang bisa kita peroleh untuk bisa banyak bersyukur,” ungkapnya.

Kepala Bidang Pelayanan Dan Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial (Kabib PRS Dinsos) Kabupaten Sidoarjo Wiyono menjelaskan bahwa permasalahan yang dialami penghuni Liponsos sangatlah beragam.

“Selain penyandang psikotik (gangguan kejiwaan), Liponsos juga dihuni oleh orang terlantar,” jelasnya.

Dari hasil penyelidikannya bahwa orang-orang tersebut sengaja ditelantarkan oleh keluarganya, tidak hanya karena faktor ekonomi, konflik keluarga juga membuat seseorang berada di Liponsos.

Pihaknya sudah beberapa kali upaya mengembalikan penghuni Liponsos kekeluarganya dilakukan, namun ada yang menolak untuk menerimanya.

“Upaya untuk menyakinkan keluarga penghuni Liponsos agar mau menerimanya kembali selalu kita dilakukan,” ucapnya.

Diterangkan oleh Wiyono bahwa jumlah penghuni Liponsos tidak menentu, bisa sekitar 65 orang bahkan bisa lebih yang kadang ditanganinya.

Penanganan penyandang psikotik di rujuk ke Panti Psikotik Grati-Pasuruan, sedangkan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) ditempatnya akan dirawat sebelum dikembalikan kepada keluarganya.

“Pendamping disini, disamping melakukan perawatan juga berupaya untuk melacak keluarga penghuni Liponsos kalau masih ada keluarganya,” terangnya. (imams/kominfo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*