Merasa Punya Hak, Warga Dirikan Bangli Diatas Stren Kali Buntung

Bangli diatas stren Kali Buntung pondasinya sudah masuk jauh kedalam bibir sungai.

WARU (beritasidoarjo.com) Bangunan liar (Bangli) diatas stren Kali Buntung di Desa Kepuhkiriman, Kecamatan Waru semakin banyak dan menggila, dimana para pemilik bangunan sudah tidak takut lagi untuk melakukan renovasi bangunan miliknya, Senin (8/1/2018).

Mereka menambah luas tanah bangunannya walaupun pondonsinya harus masuk kedalam Kali Buntung dengan melakukan plengsengan dari bibir sungai sekitar 1 meter hingga 1,5 meter.

Tanah stren Kali Buntung itu sekitar 75 x 2 meter, namun para pemilik Bangli membangun kios mereka ukurannya sangat bervariasi hingga masuk kedalam bibir sungai.

Ada sekitar 10 kios yang berdiri diatas tanah stren Kali Buntung, mulai dari Cuci Sepeda, Jual Bahan Bangunan, Jual Rongsokan barang bekas, Jual Sepeda Bekas hingga Pijat tradisional.

Sepertinya pemilik kios itu tidak peduli ataupun takut kalau bangunannya akan dibongkar dan ditertibkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sidoarjo.

Sebab berdasarkan pengakuan Budianto, salah satu pemilik kios mengungkapkan bahwa tanah yang ia pakai sebagai tempat usaha itu dibelinya dari warga sekitar sehingga ia mereka merasa yakin dan mempunyai hak atas tanah itu.

“Kami betul-betul membeli tanah ini, tidak hanya sekedar menempati saja,” ungkapnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Mahmud, salah satu warga setempat bahwa asal muasal tanah yang dibangun kios-kios itu adalah tanah milik warga asli Dusun Ngeni, Desa Kepuhkiriman.

“Tanah itu memang dulunya panjang, dari jalan sampai bibir kali itu ada sekitar 7 meter dan tidak sama panjangnya ada yang sampai 10 meter,” katanya.

Karena adanya gerusan atau abrasi oleh arus air Kali Buntung, akhirnya tanah itu hilang dan berkurang hingga beberapa meter dari aslinya.

“Hilangnya luas tanah berapa meter tidak tahu, yang jelas dulunya itu ada sekitar 7 sampai dengan 10 meter. Sekarang tinggal beberapa meter, seperti yang terlihat sekarang ini. Paling panjang dari jalan ke bibir kali 2 meter bahkan ada yang cuman 0,5 meter,” terangnya.

Menurut Mahmud bahwa tanah itu memang dijual oleh pemilik aslinya kepada para pemilik kios, namun ia mengaku tidak tahu apakah tanah yang berada di stren Kali Buntung itu ada surat-suratnya.

“Soal surat-surat, saya tidak tahu. Kalau bangunan kios banyak yang melanggar sempadan stren kali, saya orang awam tidak berani berkomentar terkait peanggaran stren kali,” ucapnya.

Sementara itu M. Nasirin (plt) Kepala Desa (Kades) Kepuhkiriman mengakui bahwa tanah yang kini berdiri kios-kios itu dulunya memang milik seseorang yang bernama Mustofa warga Dusun Ngeni.

“Waktu saya tanya ke Pak Mustofa, ia mengaku bahwa tanah tersebut memang sudah dijual,” akunya.

Ditegaskan oleh Nasirin bahwa pihaknya sudah memberikan peringatan kepada pemilik kios kalau bangunannya telah melanggar sempada sungai dan sempadan jalan, namun tidak pernah digubris karena merasa punya hak atas tanah tersebut.

Namun demikian, ia tetap melaporkan kepada ke Kantor Kecamatan Waru perihal Bangli yang berdiri diatas sempadan sungai Kali Buntung.

“Soal nanti ada penertiban dari daerah, biar ditanggung sendiri oleh pemilik kios. Yang jelas, saya tidak pernah memberi ijin berdirinya bangunan diatas stren kali apalagi sampai membangun pondasi didalam kali,” tegasnya. (imams)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*