Banjir Jabon, Warga Mulai Mengeluh Gatal-gatal Dan Diare

Ahmad Jainuri Kades Semambung menemui warganya yang rumahnya tegenang banjir.

JABON (beritasidoarjo.com) Sudah lebih dari satu bulan banjir menggenangi sawah, jalan raya dan pemukiman warga di Desa Kupang dan Desa Semambung, Kecamatan Jabon, Senin (6/3/2018).

Dua desa diwilayah Kecamatan Jabon itu setiap tahunnya selalu menjadi langganan banjir apabila musim penghujan datang karena menjadi titik kumpulnya air dari wilayah Bangil-Pasuruan.

Kepala Desa (Kades) Semambung Ahmad Jainuri mengatakan bahwa pada hari Jum’at (2/3/2018) lalu genangan air sudah mulai surut yang semula tingginya 20 cm turun menjadi 10 cm.

“Namun turunnya hujan deras membuat air kembali naik. Saat ini sekitar 15 cm hingga 20 cm,” katanya.

Diungkapkan oleh Kades Ahmad Jainuri bahwa terjadinya banjir didesanya sangat berdampak bagi perekonomian warga yang sawahnya terendam sehingga para petani tidak bisa bercocok tanam.

Walaupun satu unit mesin pompa dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sidoarjo sudah dioperasionalkan untuk mengurangi debit air, namuin tidak berpengaruh banyak.

“Surutnya lama. Begitu surut ditambahi hujan, jadinya banjir lagi,” ungkapnya.

Akibat banjir sudah yang merendam wilayahnya sejak sebulan lalu, banyak warga yang bertahan dirumahnya masing-masing mulai mengeluh gatal-gatal dikakinya dan ada juga yang mengalami diare.

“Untuk itu, kami sangat berharap agar Pemkab Sidoarjo segera turun tangan untuk memberikan bantuan obat-obatan, seperti salep gatal serta obat diare,” ujarnya.

Sementara itu, Agus Hidayat Kepala Bidang Operasional dan Pemeliharaan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Kabid O&P PUPR) Kabupaten Sidoarjo menjelaskan bahwa ada beberapa titik yang mengalami genangan dan pihaknya segera menurunkan petugas untuk mengecek kondisi dilapangan.

“Cek avfour Porong dulu, jika air tidak tinggi bisa dilakukan pemompaan,” jelasnya.

Diterangkan oleh Agus Hidayat bahwa banjir yang sering terjadi diwilayah selatan Kabupaten Sidoarjo disebabkan oleh dua hal, yaitu volume air sungai yang penuh karena pendangkalan dan air kiriman dari Kabupaten Pasuruan.

“Kami akan segera mengambil langkah normalisasi sungai. Kalau terus dibiarkan, air akan terus bertambah apalagi curah hujan yang tinggi,” pungkasnya. (imams)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*