Kurangnya Pendidikan Pra Nikah Sebabkan Tingginya Angka Perceraian

KRIAN (beritasidoarjo.com) Wakil Bupati Sidoarjo H, Nur Ahmad Syaifuddin, SH merasa prihatin dengan semakin tingginya angka perceraian di Kabupaten Sidoarjo yang mencapai sekitar 4 ribu kasus.

Dikatakan oleh Wakil Bupati Sidoarjo H. Nur Ahmad Syaifuddin bahwa tingginya kasus perceraian di Kabupaten Sidoarjo salah satunya disebabkan oleh pasangan muda yang minim pengetahun tentang pra nikah.

Cak Nur itu saat melakukan Sidang Keliling Pengadilan Agama (PA) Sidoarjo di Kecamatan Krian.

“Padahal pemahaman masalah pra nikah sangat penting bagi setiap calon pengantin,” kata pria yang akrab dipanggil Cak Nur itu saat melakukan Sidang Keliling Pengadilan Agama (PA) di Kecamatan Krian, Kamis (12/4/2018).

Cak Nur mengungkapkan bahwa Balai Nikah yang ada di Kantor Urusan Agama (KUA) yang ada di setiap kecamatan harus lebih serius dalam menyelenggarakan pendidikan pra nikah.

Menurut Cak Nur bahwa selama ini pasangan muda yang akan menikah terkadang tidak memiliki wawasan yang cukup tentang pernikahan.

“Mereka tidak mengerti kewajiban suami, kewajiban isteri dan makna serta filosofis tentang anak,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa rendahnya pemahaman dan kurangnya wawasan tentang pernikahan menyebabkan angka Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) juga cukup tinggi.

“Memang saya akui, kesemua itu sebenarnya permasalahan yang cukup kompleks. Namun demikian, itu menunjukkan juga lemahnya wawasan mereka tentang pernikahan. Karena itu pendidikan pra nikah harus diperkuat,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua PA Sidorjo Mochammad Jauhari menerangkan bahwa dari 5 ribu kasus yang ditangani oleh PA Sidoarjo, ada sekitar 4 ribu kasus perceraian.

Total kasus yang ditangani PA saat ini sebanyak 5000 an kasus. Dan yang paling banyak adalah kasus perceraian jumlahnya mencapai 4000 an kasus,” terangnya.

Disampaikan oleh Mochammad Jauhari bahwa penyebab tingginya kasus perceraian, diantaranya masalah mental pasangan yang labil atau gampang goyah karena kurangnya pendidikan pra nikah, faktor ekonomi dan adanya pengaruh pihak ketiga.

Ia juga menyampaikan bahwa banyaknya kasus perceraian membuat PA Sidoarjo merasa kuwalahan karena jumlah hakim yang menangani sidang sangat terbatas.

“Bahkan para hakim yang menangani sidang perceraian sering pulang malam untuk menyelesaikan proses sidang,” sampainya.

Untuk itu, program Sidang Keliling yang dilakukan PA Sidoarjo diharapkan membantu mempercepat proses penanganan kasus perceraian, istilahnya jemput bola di kecamatan-kecamatan.

Selain kasus perceraian, Sidang Keliling juga menangani permasalahan sengketa harta waris, perubahan nama di akta nikah dan melayani sidang isbat (pengesahan) perkawinan bagi pasangan yang sudah nikah siri difasilitasi agar mengurus akta nikah.

“Terus terang, kita kuwalahan menangani kasus perceraian karena jumlah hakim yang menangani sangat terbatas. Maka kita coba melakukan terobosan dengan melakukan Sidang Keliling di kecamatan-kecamatan untuk jemput bola,” pungkasnya. (imams)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*