Mantan Ketua Umum PC PMII Sidoarjo Sesalkan Tindakan Jampi PMII Jatim

SIDOARJO (beritasidoarjo.com) Muhammad Mahmuda mantan Ketua Umum Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Sidoarjo periode 2015-2017 mulai angkat bicara terkait sekelompok orang yang mengaku sebagai Jaringan Alumni Muda (Jampi PMII) Jawa Timur (Jatim) yang melaporkan KH. Asep Saifuddin Chalim ke Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda) Jatim beberapa waktu yang lalu.

Muhammad Mahmuda

Pria yang akrab dipanggil Mahmuda itu mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan oleh Jampi PMII Jatim dengan melaporkan KH. Asep Saifuddin Chalim ke Polda Jatim atas tuduhan menyebarkan ujaran kebencian dianggap tidak tepat.

“Sangat tidak mencerminkan kader PMII,” kata Mahmuda, Sabtu (16/6/2018).

Dikatakan oleh Mahmuda bahwa sebagai kader dan alumni PMII, seharusnya mempunyai rasa ta’dim terhadap seorang guru apalagi KH. Asep Saifuddin Chalim juga menjabat sebagai Majelis Pembina Daerah Pengurus Koordinator Cabang (Mabinda PKC) PMII Jatim.

“Terlebih lagi beliau adalah seorang pengasuh pondok pesantren Amanatul Ummah, Pacet-Mojokerto yang juga sebagai Mabimda PKC PMII Jawa Timur,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa yang disampaikan oleh KH. Asep Saifuddin Chalim tentang memilih Khofifah-Emil adalah fardu ain itu sah dan benar karena pernyataan itu disampaikan didepan para pendukungnya.

“Sudah jelas disampaikan didepan para pendukung Khofifah pada waktu deklarasi pemenangan Khofifah-Emil,” ungkapnya.

Ditegaskan oleh Mahmuda bahwa selaku pendukung Khofifah, tentu saja hukumnya wajib memilih pasangan Khofifah-Emil pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim tanggal 27 Juni 2018 nanti, begitu juga sebaliknya terhadap pasangan calon lainnya.

“Selaku pendukung Khofifah, tentu saja hukumnya wajib memilih pasangan Khofifah-Emil. Karena itu adalah komitmen bersama atas dasar musyawarah kyai sepuh yang diselenggarakan dipondok pesantren Amanatul Ummah,” tegasnya.

Maka dari itu ia sangat menyayangkan tindakan yang dilakukan oleh Jampi Jatim karena dianggap tidak menelaah secara detail bahwa ini adalah politik yang tidak bisa diartikan pada satu kesimpulan saja.

“Kita harus memiliki pandangan yang luas, bukan malah mnyempitkan pandangannya dan malah memperkeruh keadaan. Apalagi ini membawa bendera besar kita, bendera PMII. Seharusnya meraka malu atas sikap dan tindakannya yang tidak jelas dan tidak mmpunyai rasa hormat terhadap guru,” terangnya.

Selain itu, ia juga menuding bahwa Jampi PMII Jatim adalah sebuah organisasi yang tidak sah karena hanya ada satu wadah bagi alumni PMII yang legal dan terstruktur, yaitu IKA PMII.

“Perlu diketahui bahwa wadah alumni PMII hanya ada IKA PMII. Tidak ada yang lain dan hanya IKA PMII yang sah dan terstruktur,” pungkasnya. (pram/imams)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*