Tidak Ada Pembubaran Dalam Aksi Unjuk Rasa Karyawan PT. SIGK

KRIAN (beritasidoarjo.com) Ratusan karyawan PT. Sinar Indo Green Kencana (SIGK) melakukan aksi unjuk rasa didepan didepan perusahaan yang berada di Desa Ponokawan, Kecamatan Krian, kamis (27/9/2018).

Polisi melakukan penyekatan peserta aksi unjuk rasa didepan PT. SIGK Desa Ponokawan, Kecamatan Krian.

Dalam aksi unjuk rasa yang ketiga kalinya itu sempat terjadi kericuhan antara pengunjuk rasa dengan anggota kepolisian yang sedang melakukan pengamanan.

Kericuhan terjadi saat anggota kepolisian melakukan penyekatan terhadap buruh yang melakukan aksi unjuk rasa karena dianggap menutupi akses jalan keluar masuknya kendaraan perusahaan.

Effendi Koordinator Lapangan (Korlap) aksi unjuk rasa mengatakan bahwa aksinya dilakukan untuk menuntut perusahaan PT. SIGK agar memperkerjakan kembali karyawan yang telah di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) secara sepihak.

“Aksi unjuk rasa ini akan terus kami lakukan, hingga tuntutan kami dikabulkan oleh pihak perusahaan,” katanya.

Selain masalah PHK, mereka juga meminta kepada pihak perusahaan agar mengangkat pekerja kontrak menjadi pekerja tetap dan membayar kekurangan upah penangguhan tahun 2017.

“Serta membayar pekerja sesuai dengan UMK tahun 2018,” ucapnya.

Namun ia merasa kecewa dengan anggota kepolisian yang sedang melakukan pengamanan, karena mereka diusir secara paksa oleh anggota kepolisian dengan menggunakan K-9 atau anjing pelacak yang berjumlah sekitar 80 ekor.

Ia menganggap aparat kepolisian yang berjaga telah berpihak kepada pihak perusahaan karena telah membubarkan aksi unjuk rasa mereka dengan menggunakan anjing pelacak.

“Tindakan ini tidak adil bagi kami. Karena sebagai rakyat kecil semestinya mendapatkan perlindungan dan pengayoman, bukan sebaliknya. Ini membuktikan bahwa polisi berpihak kepada perusahaan,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Bagian Operasi (Kabag Ops) Polresta Sidoarjo Kompol Edi Santoso membantah bahwa pihaknya melakukan pembubaran aksi unjuk rasa didepan PT. SIGK yang dilakukan oleh para pekerja perusahaan tersebut.

Dijelaskan oleh Kompol Edi Santoso bahwa pihaknya hanya melakukan penyekatan agar kendaraan bisa keluar masuk perusahaan karena para peserta aksi unjuk rasa sempat menutupi akses jalan tersebut.

“Posisi masa buruh sempat menutupi akses keluar masuk kendaraan perusahaan sehingga terpaksa petugas melakukan penyekatan,” jelasnya.

Tindakan penyekatan terpaksa dilakukan agar pihak perusahaan tetap bisa beroperasi sebagaimana mestinya dan para pengunjuk rasa tetap bisa menyampaikan aspirasinya tanpa harus mengganggu ketertiban umum.

“Hingga detik ini saya pun tidak pernah memerintahkan anggota untuk membubarkan masa aksi, apa lagi membubarkan paksa,” tegasnya.

Dituturkan oleh Edi Santoso bahwa yang dilakukan oleh anggotanya dilapangan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, yaitu UU No. 9 /1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat dimuka umum, Perkap No. 16 / 2006 tentang Pedoman Pengendalian Massa.

Perkap No. 1/ 2009 tentang penggunaan dalam tindakan kepolisian, Perkap No. 7 / 2012 tentang tata cara penyelenggaraan pelayanan, pengamanan dan penanganan perkara penyampaian pendapat dimuka umum.

“Dalam pengamanan, anggota kepolisian tetap mengedepankan undang-undang yang berlaku  dengan tujuan agar kedua belah pihak bisa tetap berjalan sesuai haknya masing-masing,” tuturnya. (imams)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*